Siap Atau Tidak: 7 Juta Jiwa Menantang !

First Gay Wedding Show In Paris

Oleh Erwin Analau

Kemarin ini kami makan malam bersama dengan beberapa teman seiman di sebuah restoran. Kami sudah lama berteman, sehingga pembicaraan kami kebanyakan berhubungan dengan teman-teman lama dan gereja. Kemudian topik kami sampai pada suatu kenyataan bahwa ada beberapa teman seiman yang dulunya aktif dalam gereja, tetapi sekarang sudah keluar dan bahkan ada beberapa yang menyelami kehidupan sesama jenis (homoseksual).

Topik homoseksualitas sekarang lagi hangat-hangatnya di Amerika. Topik yang dulunya adalah suatu ketabuan atau merupakan pihak minoritas, sekarang menjadi suatu topik yang populer dan menjadi pihak mayoritas. Bebebrapa negara bagian sudah melegalkan perkawinan sesama jenis, dan kemungkinan isu ini akan diusung terus agar bisa menjadi legal dalam tingkat federal (nasional). Menurut pemikiran saya, lambat laun ini bukan hanya masalah Amerika, tapi juga akan menjadi masalah global dan Indonesia tidak akan terluput dari masalah ini.

Pertanyaannya apakah gereja-gereja di Indonesia siap untuk menghadapi isu ini? Apakah kita akan meresponi masalah ini dengan antipati atau simpati? Apakah para homoseksual bisa terselamatkan? Apakah kita bisa menerima mereka? Apakah mereka bisa berubah? Apakah kita akan mengulang kesalahan-kesalahan dari gereja Amerika dalam menanggapi mereka?

Dalam percakapan semalam, saya berpendapat bahwa sebenarnya di dalam gereja ada orang-orang yang mempunyai kecenderungan homoseksual dan kita sebagai gereja tidak boleh menutup mata akan kenyataan ini. Suatu kenyataan dalam kebudayaan Asia, suatu momok biasanya akan ditutupi atau dihiraukan atau ditiadakan, dan sayangnya, hal ini juga berlanjut ke dalam gereja. Biasanya cara pemikiran yang terjadi yaitu: “Tidak mungkinlah, khan si A aktif sekali!” atau ”Mana mungkin, bukankah dia sudah mempunyai pacar?” atau “Dia khan anak pendeta, mana mungkin?”, dan seterusnya dan seterusnya, tapi secara garis besar, kita secara naïve berpikir bahwa aktif di dalam gereja bisa menyebabkan kita kebal terhadap dosa-dosa, apalagi dosa homoseksualitas.

Secara statistik di Amerika, populasi homoseksual adalah 3.5 %. Kalau kita memakai statistik yang sama terhadap penduduk Indonesia -200 juta jiwa, maka jumlah perkiraan akan populasi homoseksual adalah sekitar 7 juta jiwa. Jumlah yang cukup besar. Kita bisa melihat jumlah ini sebagai lawan atau sebagai pendosa-pendosa yang tak terselamatkan atau sebagaimana Yesus melihat mereka — tuaian yang sudah menguning.

Hari Minggu ini, di gereja saya pengkhotbah membicarakan tentang Kisah Para Rasul 8:26-40. Kisah di mana Rasul Filipus dipakai Tuhan untuk menginjil sida-sida dari Etiopia. Selama khotbah, Roh Kudus mengingatkan saya tentang pembicaraan kami kemarin malam.

Kalau saya masukkan cerita ini ke dalam perspektif masa kini. Sida-sida atau eunuch adalah pria-pria yang sudah dikebiri kemaluannya di luar kemauan mereka sehingga mereka tidak bisa berhubungan seksual lagi dengan lawan jenis untuk melayani raja atau pemimpin mereka. Kalau dulu saya menonton film silat, mereka sering digambarkan sebagai para pria yang lemah gemulai dan berwatak kewanitaan. Jika saya masukkan gambaran ini ke jaman moderen, sida-sida ini adalah layaknya kaum homoseksual dan trans-gender (orang yang merubah alat kelaminnya). Argumen para kaum homoseksual di Amerika adalah mereka tidak memilih untuk dilahirkan sebagai homoseksual, mereka dilahirkan demikian di luar kehendak mereka. Hal itu juga terjadi pada para sida-sida, mereka dikebiri di luar kehendak mereka. Sida-sida tersebut mewakili kaum homoseksual dan trans-gender.

Dalam kisah ini, sida-sida itu sedang kebingungan dan berusaha untuk mencari tahu siapa Juruselamat itu. Mungkin banyak dari kaum homoseksual sudah pernah mendengar tentang Yesus. Mereka telah mendengar bahwa Dia adalah Juruselamat yang baik. Mereka telah mendengar bahwa nama-Nya identik dengan CINTA ! Mereka telah mendengar bahwa Dia bisa merubah apapun juga ! Mereka mungkin juga telah mendengar bahwa Dia yang datang menyelamatkan bukan karena kita orang yang sempurna, tapi karena kita adalah orang-orang yang rusak dan Dia adalah Allah yang baik! Mereka mungkin sudah mendengar, tetapi pada kenyataannya mereka ditolak oleh masyarakat, pemerintah atau lebih lagi gerejaNya! Mereka mungkin telah mendengar semuanya tapi mereka belum mengenal jelas siapa sebetulnya YESUS !

Allah secara KHUSUS mengutus malaikatNya untuk memerintahkan Rasul-Nya Filipus untuk memberitakan Injil hanya ke SATU orang sida-sida. Setelah kejadian Pantekosta, gereja bertumbuh menjadi 3000 orang dalam sehari. Coba pejamkan mata anda dan bayangkan pendeta ternama yang anda bisa dipikirkan, dan bayangkan kalau pendeta tersebut khusus datang ke tempat anda hanya untuk mengajari anda Alkitab secara private ! LUAR BIASA ! Ada pasti seorang yang khusus bukan ?

Kisah Filipus ini layaknya demikian. Allah mengutus salah satu Rasulnya untuk memberikan pelajaran Alkitab ke satu orang, sida-sida dari Etiopia. Seorang trans-gender atau mungkin homoseksual. Pada saat itu sida-sida tersebut juga sedang mempelajari Alkitab tentang seorang Juruselamat. Dia sudah mendengar tentang Juruselamat ini, tapi belum mengenal siapa Dia. Filipus diutus untuk menerangkan Injil kepadanya dan hasilnya, sida-sida tersebut bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, dan bahkan segera dibaptis. TIDAK TERPIKIRKAN yang Allah kita bisa buat. TIDAK TERBAYANGKAN ketika nama Yesus diberitakan !

Dia memanggil gerejaNya secara khusus untuk menjangkau mereka. Mereka yang sudah matang dan mereka yang masih terus mencari.

Pada tahun 1980-an ketika komunitas homoseksual mulai menjadi sorotan publik di Amerika. Respon dari gereja-gereja sangatlah menyedihkan. Mereka mengasingkan dan menolak mereka secara mentah-mentah. Bukannya memperlakukan mereka sama seperti orang-orang di gereja (sesama pendosa yang telah diselamatkan karena anugerah) , mereka mengucilkan, menolak dan menganggap mereka sebagai pendosa yang tak terselamatkan. Jujur saja, saya juga berdosa dalam hal ini. Karena itulah perspektif saya dulunya. Hasilnya, beberapa dekade kemudian, mereka yang ditindas menentang balik dan terjadi lah perang kebudayaan yang sengit.

Saya bukan ahli konseling tentang homoseksualitas atau pakar untuk menangani hal ini, bukan, saya juga bukan orang yang membenarkan praktis homoseksual. Saya percaya dengan sungguh bahwa mereka adalah orang-orang berdosa, sama seperti semua dari kita. Mereka orang berdosa yang bergumul dengan keinginan homoseksualnya, sedangkan saya, saya orang berdosa yang setiap hari bergumul dengan kenajisan, pornografi, ketinggihan hati, tidak mencintai istri dan anak-anak saya seperti yang Yesus inginkan, dan 1001 dosa lainnya. Saya membutuhkan kasih karunia, seperti layaknya mereka. Tujuan saya menulis ini hanya sekedar berteriak “Hey ada gajah di dalam ruangan ini !”

Isu ini bukan hanya sekedar isu gereja di Amerika, tapi di kemudian hari ini akan menjadi isu global dan juga akan melanda gereja-gereja di Indonesia. Akan kah kita memperlakukan jiwa-jiwa ini sebagai lawan, atau sebagai pendosa yang tak terselamatkan dan mengucilkan atau mengasingkan mereka layakanya orang lepra atau …

AKANKAH ANDA MELIHAT ADA 7 JUTA JIWA YANG YESUS KASIHI DAN MAU SELAMATKAN! 7 JUTA JIWA YANG SUDAH MENGUNING! 7 JUTA JIWA YANG SEDANG MENCARI!

Seperti dalam film-film koboi, ketika dua koboi sedang berhadapan dengan tangan dan senjata di pinggang. Siap atau tidak: 7 juta jiwa ini akan berhadapan mata ke mata dengan gerejaNya di Indonesia. Apa yang akan dilakukan gereja ?

Leave a Reply

Post Navigation